Membaca kata broker,apa persepsi yang muncul dipikiran kita? Persepsi kita bisa berarti orang yang suka minta komisi, ada unsur percaloan. Broker sendiri berarti pedagang perantara.
Tampilkan postingan dengan label Islam artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam artikel. Tampilkan semua postingan
Kamis, 31 Maret 2016
Rabu, 23 Maret 2016
BISNIS PEMBAWA PETAKA
Oleh:
Muhammad Wasitho, Lc
Agama Islam adalah satu-satunya
agama yang syari’atnya sangat mulia dan sempurna karena mengatur segala aspek
kehidupan manusia. Demikian pula rasulnya, Nabi Muhammad shallallahu
alaihi wasallam merupakan manusia yang sangat terpuji dan suri teladan
terbaik serta pembawa rahmat bagi alam semesta.
Diantara bukti kesempurnaan agama
Islam dan rahmatnya bagi alam semesta ialah syariatnya menganjurkan kepada
umatnya agar bekerja dan berbisnis dengan jalan yang benar dan menjauhi segala
hal yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya. Karena tiada suatu perkara pun yang
dilarang oleh Allah dan rasul-Nya melainkan perkara tersebut akan mendatangkan
bencana dan mudharat bagi para pelakunya.
Selasa, 15 Maret 2016
Cinta, Harap dan Takut
Oleh: Abu
Abdillah Al-Kautsary
Ibadah
merupakan perkara agung yang diperintahkan Allah Ta’ala kepada setiap
makhluknya. Karena tujuan utama dibalik penciptaan jin dan manusia adalah untuk
beribadah kepada Allah…
Ibadah
sendiri tidaklah terbatas pada amalan fisik atau yang tampak semata sebagaimana
shalat, zakat, puasa, haji, dll. Akan tetapi ibadah juga menyangkut amalan
amalan batin seperti berharap, takut, tawakkal, nadzar, benci, cinta, dll.
Karena definisi ibadah sendiri adalah segala hal yang Allah Ta’ala
cintai dan sukai baik dalam bentuk perkataan maupun amal perbuatan yang
bersifat fisik/lahir maupun non-fisik/batin
Ibadah
juga haruslah (1) diniatkan ikhlas kepada Allah saja dan (2) sesuai dengan yang
rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam contohkan. Keikhlasan itu
sendiri akan terwujud dengan sempurna apabila ditopang oleh 3 pilar penting,
yaitu cinta, harap dan takut.
Berbakti Kepada Orang Tua
Berbicara tentang berbakti kepada
orang tua tidak lepas dari permasalahan berbuat baik dan mendurhakainya.
Mungkin, sebagian orang merasa lebih ‘tertusuk’ hatinya bila disebut ‘anak
durhaka’, ketimbang digelari ‘hamba durhaka’. Bisa jadi, itu karena
‘kedurhakaan’ terhadap Allah, lebih bernuansa abstrak, dan kebanyakannya, hanya
diketahui oleh si pelaku dan Allah saja. Lain halnya dengan kedurhakaan
terhadap orang tua, yang jelas amat kelihatan, gampang dideteksi, diperiksa dan
ditelaah,sehingga lebih mudah mengubah sosok pelakunya di tengah masyarakat,
dari status sebagai orang baik menjadi orang jahat.
Pola berpikir seperti itu, jelas
tidak benar, karena Allah menegaskan dalam firman-Nya, (yang artinya) :
“Allah telah menetapkan agar
kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya; dan hendaklah kalian berbakti
kepada kedua orang tua.” (Al-Israa : 23)
Sabtu, 30 Januari 2016
Dunia dibagikan pada empat orang
Mari sejenak merenungkan, masuk yang mana kita.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Dunia telah diberikan pada empat orang Orang pertama, diberikan rizki dan ilmu oleh Allah. Ia kemudian bertakwa dengan harta tadi kepada-Nya, menjalin hubungan dengan kerabatnya, dan ia pun tahu kewajiban yang ia mesti tunaikan pada Allah. Inilah sebaik-baik kedudukan. Orang kedua, diberikan ilmu oleh Allah namun tidak diberi rizki berupa harta oleh Allah. Akan tetapi ia punya niat yang kuat (tekad) sembari berujar, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku akan beramal seperti si fulan.’ Orang ini akan mendapatkan yang ia niatkan. Pahalanya pun sama dengan orang yang pertama. Orang ketiga, diberikan rizki oleh Allah berupa harta namun tidak diberikan ilmu. Ia akhirnya menyia-nyiakan hartanya tanpa dasar ilmu, ia pun tidak bertakwa dengan harta tadi pada Rabbnya dan ia juga tidak mengetahui kewajiban yang mesti ia lakukan pada Allah. Orang ini menempati sejelek-jelek kedudukan. Orang keempat, tidak diberikan rizki oleh Allah berupa harta maupun ilmu. Dan ia pun berujar, ‘Seandainya aku memiliki harta, maka aku akan berfoya-foya dengannya.’ Orang ini akan mendapatkan yang ia niatkan. Dosanya pun sama dengan orang ketiga.” [HR. Tirmidzi no. 2325, shahih kata Syaikh Al Albani]
Dari @tadabbur_
Semoga renungan ini bermanfaat ..
Langganan:
Postingan (Atom)




